January 14, 2026
Business

Ustadz Maulana La Eda: Santri Harus Serius Belajar, Bukan Sekadar Menghafal

  • Januari 29, 2024
  • 0

CIBINONG, WAHDAHEDUGAZ.COM – Ustadz Maulana La Eda, Ph.D., dosen IAI Stiba Makassar sekaligus alumni S3 Ilmu Hadis Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, menyempatkan diri mengisi materi setelah salat

Share:
Ustadz Maulana La Eda: Santri Harus Serius Belajar, Bukan Sekadar Menghafal

CIBINONG, WAHDAHEDUGAZ.COM – Ustadz Maulana La Eda, Ph.D., dosen IAI Stiba Makassar sekaligus alumni S3 Ilmu Hadis Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, menyempatkan diri mengisi materi setelah salat Magrib sebelum kembali ke Makassar, Rabu (6/8/2025).

Bertempat di Masjid Ibnu Katsir, Komplek Ponpes Wahdah Cibinong (SQ Wahdah), hadir seluruh santri dan para pembina. Dalam kesempatan tersebut, beliau memberikan lima pesan penting sebagai penguatan bagi santri selama menempuh pendidikan di pondok.


Belajar Sejak Muda Adalah Kesempatan Emas

Dalam muqaddimahnya, Ustadz Maulana menekankan bahwa belajar agama bukan hanya soal menghafal atau duduk di kelas. Menurutnya, usia muda adalah waktu paling berharga untuk menimba ilmu dan menghafal Al-Qur’an.

Beliau memberi contoh: ada santri berusia 13–14 tahun yang sudah mampu menghafal 4 juz, padahal beliau sendiri baru menghafal 2–3 juz di usia 18 tahun. Hal ini menunjukkan keistimewaan semangat dan ketekunan sejak dini.


Tujuan Menjadi Santri: Lebih dari Sekadar Hafalan

Menurut Ustadz Maulana, tujuan seorang santri berada di pesantren tidak boleh hanya berhenti pada “untuk menghafal Al-Qur’an” atau “untuk belajar.” Itu terlalu sederhana.

Tujuan yang sesungguhnya adalah menjadi ulama yang mampu menuntun umat dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.


5 Kunci Menjadi Calon Kader Ulama

  1. Kesungguhan (Serius Belajar)
    Belajar agama tidak boleh main-main. Ulama besar pun pernah kesulitan, namun mereka berhasil karena terus mengulang hafalan tanpa putus asa.
  2. Semangat dan Ketekunan
    Belajar harus pantang menyerah. Beliau mencontohkan kisah Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang menggambarkan hafalan bagaikan memindahkan gunung, tetapi dengan ketekunan akhirnya berhasil.
  3. Menghafal Al-Qur’an dan Memahami Maknanya
    Hafalan harus disertai pemahaman makna dan detail ayat agar tidak hanya sekadar mekanis.
  4. Banyak Membaca dan Mengulang
    Kunci menguatkan hafalan adalah konsistensi, kesabaran, dan pengulangan, bukan kecepatan semata.
  5. Berbakti kepada Orang Tua dan Guru
    Ridha Allah terletak pada ridha orang tua dan guru. Santri yang lalai dalam hal ini tidak akan mampu menjadi ulama sejati.

Pesan Penutup: Menjadi Ulama Sejati

Ustadz Maulana menutup dengan pengingat bahwa keunggulan santri yang belajar sejak SMP dan SMA akan terasa dalam 20 tahun ke depan, saat mereka tumbuh menjadi ulama kuat ilmu dan akhlaknya.

Beliau menegaskan, menjadi ulama bukan ditentukan cepat atau lambatnya hafalan, tetapi oleh kesungguhan, semangat, ketekunan, dan keberbaktiannya.


✨ Pesan ini menjadi bekal berharga bagi santri SQ Wahdah Cibinong untuk terus belajar dengan serius, menyiapkan diri sebagai kader ulama penggerak umat di masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *